Logistic

Optimalkah Pembangunan Infrastruktur Bagi Rantai Pasokan Indonesia?

infrastruktur
Ilustrasi

Fokus pemerintah menggiatkan pembangunan infrastruktur tidak lalu mempengaruhi kualitas secara langsung supply chain di Indonesia. Masih banyak tantangan yang mesti dibenahi untuk membuatnya kompetitif, paling tidak dibandingkan negara tetangga.

Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla berhasil menaikan peringkat daya saing Indonesia secara global di World Economic Forum (WEF). Dalam Global Competitiveness Index 2017-2018 itu Indonesia berada di peringkat ke-36 dari 137 negara atau naik 5 tingkat dari sebelumnya di peringkat ke-41.

Slide3

Sumber: World Economic Forum, “Global Infrastructure Competitiveness Index 2016-17 & 2017-18

Begitu pula di kategori daya saing infrastruktur yang tahun ini meningkat ke peringkat ke-52 dari sebelumnya 60.

Sumber: World Economic Forum, “Global Infrastructure Competitiveness Index 2016-17 & 2017-18

Pembangunan infrastruktur yang menjadi program prioritas nasional diyakini menjadi salah satu faktor penting pendongkrak posisi Indonesia. Dalam tiga tahun kepemimpinan keduanya, pemerintah telah melakukan 244 proyek strategis nasional (PSN) di banyak daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Sementara nilai investasi yang digelontorkan mencapai Rp 4.000 triliun.

Meskipun begitu, pembangunan infrastruktur yang dilakukan di setiap daerah di Indonesia tersebut bagi beberapa kalangan belum berdampak optimal terhadap kinerja industri rantai pasokan (supply chain) di negara ini. Diperkirakan masih perlu perjalanan yang cukup panjang untuk memastikan pembangunan infrastruktur di Indonesia setara dengan negara-negara tetangga dan memenuhi harapan pelaku supply chain.

Tidak Instan

Harus dipahami, dampak infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi baru akan terasa ketika infrastruktur tersebut sudah beroperasi. Kalaupun ada dampak positif selama infrastruktur tersebut dibangun, tetapi tentu tidak optimal.

Pembangunannya pun tidak langsung memberikan hasil langsung, tetapi terdapat jeda waktu setidaknya tiga hingga lima tahun setelahnya.

Berikut beberapa faktor yang membuat pembangunan infrastruktur ini dirasakan beberapa kalangan belum optimal, di antaranya:

  • Proses pembangunan infrastruktur hingga nanti pengoperasiannya memerlukan waktu lama. Dengan begitu dampaknya tidak langsung terasakan sekarang.
  • Pembangunan infrastruktur dinilai dilakukan secara parsial, dengan prioritas yang tidak jelas, dan belum sistemik mengikuti strategi besar. Kini pun diperkirakan baru 20-30 persen pembangunan saja yang terlaksana dari total kebutuhan masyarakat.
  • Pembangunan infrastruktur juga belum terkoneksi seluruhnya atau masih terputus-putus, misalnya antara pelabuhan, jalanan, dan transportasi.
  • Terkait dengan logistik, infrastruktur logistik nasional belum dikelola secara terintegrasi, efektif, dan efisien.

Konsisten dan Berkesinambungan

Terlepas dari dampaknya yang saat ini belum dirasakan optimal, hampir seluruh kalangan mengharapkan pemerintah terus mendorong daya saing perekonomian Indonesia. Selain dengan mempercepat pembangunan infrastruktur yang memang telah meningkat signifikan sejak tahun 2014, juga dengan terus memangkas dan menyederhanakan regulasi dan perizinan.

Harapannya, belanja infrastruktur dapat terus berlanjut di tahun-tahun mendatang. Paling tidak agar dapat mengejar Cina dan India yang belanja infrastruktur terhadap PDB telah di atas 7 persen, sementara Indonesia baru 4 persen.

Terkait dengan kemampuan bersaing dengan negara lain, Indonesia juga harus terus bekerja keras untuk dapat mengejar beberapa negara terdekat yang di Global Competitiveness Index 2017-2018 peringkatnya masih lebih tinggi, bahkan jauh di atas Indonesia. Yakni, Singapura (peringkat 3), Malaysia (peringkat 23), bahkan Thailand (peringkat 32).

Peringkat Infrastruktur Negara-Negara ASEAN

Sumber: World Economic Forum, “Global Infrastructure Competitiveness Index 2016-17 & 2017-18

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Petro Updated

To Top
Translate »