New Technology

Internet of Things dan Inovasi Terkini Yang Diperlukan di Indonesia

Internet of Things dan Inovasi Terkini Yang Diperlukan di Indonesia
Ilustrasi

Perkembangan bisnis IoT diperkirakan akan tumbuh pesat di seluruh dunia. Indonesia bahkan diyakini akan menjadi market IoT terbesar di Asia Tenggara.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Indonesia IoT Forum diperkirakan pasar Internet of Things (IoT) dalam negeri akan tumbuh sebesar Rp 444 triliun di 2022. Dari jumlah tersebut, nilai ekonomi konten dan aplikasi IoT sebesar Rp 192,2 triliun, platform Rp 156,8 triliun, perangkat IoT Rp 56 triliun, dan gateway Rp 39,1 triliun.

Di tahun yang sama juga diperkirakan terdapat sekitar 400 juta perangkat sensor yang terpasang, dengan rincian pengguna terbesar adalah industri manufaktur (16 persen), industri kesehatan (15 persen), asuransi (11 persen), dan banking and securities (10 persen).

Lebih lanjut, seperti diberitakan detik.com (8/12), hasil riset online yang dilakukan IoT Forum mendapati fakta pengguna IoT merasa keberadaan laboratorium yang fokus mengembangkan produk IoT sangat diperlukan. Laboratorium tersebut harapannya dapat mempermudah akses pelaku bisnis ke pasar potensial.

Karena sesuai fungsi dan tujuannya, lab IoT menawarkan ekosistem yang mengumpulkan pengembang, pengguna akhir, dan inovator untuk bekerja sama menghadapi tantangan. Di berbagai negara lab IoT pun telah menjadi salah satu sarana terbaik bagi developer untuk masuk pasar komersial.

Definisi IoT

Berbicara tentang definisi, IoT adalah konsep di mana satu perangkat memiliki kemampuan mentransfer data melalui jaringan ke perangkat lainnya.

Proses transfer tersebut tanpa memerlukan keterlibatan manusia ke manusia atau manusia ke komputer, artinya langsung dari perangkat yang satu ke perangkat lainnya (machine to machine). Dalam berkomunikasi perangkat tersebut memanfaatkan teknologi nirkabel, micro-electromechanical system (MEMS), dan internet.

Di keseharian, teknologi IoT dapat ditemukan di sebuah mobil yang dilengkapi built-in sensor yang dapat memberi peringatan kepada pengemudinya ketika tekanan ban rendah, lemari es yang mengirimkan notifikasi melalui internet ketiadaan satu-dua barang yang harus dibeli pemiliknya, hingga sepeda pintar yang dilengkapi GPS untuk membantu menunjukkan rute perjalanan.

Di industri, IoT bahkan sudah banyak diaplikasikan di perusahaan-perusahaan infrastruktur dan manufaktur besar.

Perkembangannya di Indonesia

Di Indonesia, perkembangan IoT terus mengalami peningkatan dan semakin pesat hingga beberapa tahun terakhir. Banyak kalangan bahkan berani mengatakan IoT merupakan masa depan bisnis digital di Indonesia.

Perkembangan tersebut ditunjukkan dengan banyaknya perusahaan-perusahaan yang telah menggunakan teknologi IoT untuk mempermudah sistem operasional dengan tujuan mengurangi cost dan meningkatkan efisiensi kerja. Selain itu, tidak sedikit pula kehadiran perusahaan-perusahaan baru yang sedari mula sudah mengusung tema IoT.

Di beberapa pemerintahan daerah, penggunaan IoT juga sudah lama diaplikasikan untuk konsep smart city, di antaranya oleh pemerintah daerah DKI Jakarta, Bandung, Makassar, dan terakhir Banda Aceh.

Meskipun begitu, masih banyak catatan agar potensi bisnis IoT yang amat besar di negara ini teroptimalisasi. Infrastruktur dan teknologi menjadi faktor yang paling mendasar dan utama, kemudian regulasi dan kebijakan pemerintah yang harus standar dan konsisten serta memiliki timeline jelas, hingga tentang laboratorium dan komunitas IoT.

Ekosistem Harapan Berinovasi

Inovasi IoT di sejumlah negara maju terbilang pesat, salah satunya karena dukungan komunitas dan ekosistem. Di Amerika Serikat misalnya, ada TechShop yang menjadi tempat bagi penggiat IoT di negara tersebut bereksperimen dan bereksplorasi.

Lab IoT dapat merangsang pertumbuhan ekosistem IoT di Indonesia dan mendorong munculnya beragam produk IoT yang dapat menjadi solusi kebutuhan masyarakat.

Hasil riset online yang dilakukan Indonesia IoT Forum yang diselenggarakan di November 2017 lalu mencatat, bentuk lab IoT yang menjadi pilihan pertama responden adalah laboratorium yang lengkap mulai dari pengembangan konten dan aplikasi, platform, perangkat (devices), dan jaringan (network).

Dalam keterangannya pada Jumat lalu (8/12), Teguh Prasetya mengemukakan, mayoritas responden (yang menginginkan keberadaan lab IoT di Indonesia) ingin bergabung dengan lab IoT dan merasakan pengalaman mengembangkan produk IoT sembari membangun jejaring dengan stakeholders dalam industri ini. 72,3 persen responden bahkan sudah memiliki ide dan berniat mengembangkan produk mereka sendiri.

Sesuai dengan keinginan pemerintah agar bisnis IoT dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru bagi Indonesia, semoga segala kebutuhan yang diperlukan industri ini akan terpenuhi segera.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Petro Updated

To Top
Translate »