ENERGY

Indonesia Harus Belajar Geothermal Ke Negara Es Islandia

RigOdinn_IcelandDrilling
Ilustrasi

Tidak mudah hidup di lingkungan yang dikelilingi es dan gletser. Meskipun kondisinya akan sedikit berbeda ketika terdapat titik-titik panas bumi dan air panas, yang kemudian dapat dioptimalkan untuk energi panas bumi (geothermal).

Dalam kunjungan muhibah anggota DPR RI ke Islandia di bulan Agustus lalu, beberapa anggota delegasi menyampaikan harapannya agar Indonesia lebih serius mengembangkan energi panas bumi atau geothermal. Selain potensi yang dimiliki cukup besar, energi panas bumi dapat menjadi energi masa depan yang ramah lingkungan. Pemanfaatannya sudah tentu sesuai dengan komitmen Indonesia terhadap Perjanjian Paris 2015.

Islandia sendiri diyakini dapat menjadi negara rujukan Indonesia dalam mengembangkan energi panas bumi, baik dari sisi teknologi dan lingkungan. Pemanfaatan panas bumi di negara yang berada di sebelah utara Samudra Atlantik ini telah menciptakan multiplayer effect bagi pengembangan bisnis dan wisatanya, salah satunya dengan maraknya pusat-pusat spa dan klinik kesehatan.

Begitu pula di sektor perikanan. Islandia mampu memanfaatkan lingkungan bersih dari energi panas bumi untuk pengembangan perikanannya, sehingga ikan tumbuh sehat dan terhindari dari kotoran-kotoran buangan yang sulit didaur ulang.

Panas bumi memang telah menjadi ikon energi Islandia. Pengembangannya pun telah jauh lebih lama dari Indonesia, tepatnya tahun 1945. Diuraikan Wakil Ketua DPR RI Agus Hermanto pada saat kunjungan muhibah, penelitian mulanya dilakukan di bawah instansi pemerintah, tetapi kini Islandia Geo Survey atau IGOS melanjutkan penelitiannya sebagai lembaga negara independen.

Berkembang Saat Krisis Minyak

Meskipun penelitian baru dilakukan di tahun tersebut, masyarakat yang berada di negara dengan banyak es dan gletser, tetapi uniknya juga kaya titik-titik panas bumi dan sumber air panas, ini telah memanfaatkan energi panas bumi jauh sebelumnya.

Konon pada tahun 1907, dengan menggunakan pipa beton, seorang petani di Islandia Barat mengalirkan uap air panas yang berada di bawah tanah pertaniannya ke dalam rumah untuk sumber air panas. Tindakannya itu kemudian ditiru petani-petani lain. Di tahun 1930-an, pemanfaatan uap air panas berkembang hingga ke wilayah perkotaan.

Pemanfaatan tenaga hidro dan panas bumi di Islandia makin gencar ketika krisis minyak melanda dunia di tahun 1970-an. Kala itu, meningkatnya harga minyak mengubah kebijakan pemerintah negara yang terletak 300 kilometer di sebelah timur Greenland itu untuk mengalokasikan dana ke kegiatan eksploitasi sumber daya panas bumi, serta membangun sistem pipa transmisi dari sumber panas bumi ke kota, desa, dan daerah perternakan.

Ketika krisis minyak berakhir di tahun 1980-an dan hampir seluruh dunia kembali memanfaatkan minyak bumi, Islandia konsisten memanfaatkan panas bumi.

Kini kebutuhan energi Islandia murni memanfaatkan tenaga hidro dan panas bumi. Dari kedua sumber energi inilah lebih dari 70 persen kebutuhan energi negara berpenduduk 330.000 jiwa ini terpenuhi. Berkat panas bumi dan tenaga hidro pula Islandia menjadi satu-satunya negara yang 100 persen pasokan listriknya dari energi terbarukan.

Selangkah Lebih Maju

Tidak pernah berhenti, Islandia terus berinovasi dalam pengembangan dan pemanfaatan energi baru terbarukan. Hasilnya, teknologi Islandia di pengembangan panas bumi terbilang selangkah lebih maju, hingga banyak diadospi negara-negara lain. Salah satu pengembangan teknologi dan eksperimen energi panas bumi Islandia terakhir dilakukan tahun lalu.

Bila selama ini pemanfaatan panas bumi di Islandia lebih banyak menggunakan metode sederhana, di tahun 2017 negara yang sering disebut negeri tanah es dan api tersebut menghadirkan alat pengeboran Thor, yang diyakini dapat mengubah masa depan energi Islandia.

Dalam eksperimen yang dilakukan beberapa bulan lalu, Thor mampu mengebor sebuah lubang hingga kedalaman 4.7 kilometer di bawah permukaan gunung berapi dengan suhu hingga 420 derajat celcius.

Jika lubang sumur sesuai dengan harapan, artinya kapasitas dan komposisi energinya dapat dimanfaatkan optimal, tiga sampai lima sumur Thor dapat menghasilkan energi panas bumi setara dengan 30 sumur panas bumi konvensional.

Bila Thor dan sumur galiannya memenuhi harapan, Islandia dapat mengubah peta pemanfaatan enegi panas bumi di seluruh dunia. Pasalnya, tidak tertutup kemungkinan negara tersebut dapat menjual energi terbarukan ke negara lain melalui pipa bawah laut.

Islandia Mengebor 4,8 Km Menuju Gunung Berapi

Islandia memanfaatkan panas dari gunung berapi untuk memproduksi energi bersih atau clean energysebagai bagian dari proyek teknologi panas bumi (geotermal) yang baru dirintis.

Perusahaan yang menjalankan proyek tersebut, HS Orka, mengebor hingga kedalaman 4,8 kilometer ke dalam Bumi di dekat tempat wisata air panas Blue Lagoon di Reykjanes.

Jika berhasil, proyek percobaan itu dapat memproduksi energi 10 kali lebih besar dibanding energi yang dihasilkan dari gas atau minyak.

Dikutip dari Independent, Islandia merupakan negara pelopor energi geotermal. Sebanyak 85 persen pasokan energi di negara tersebut berasal dari sumber terbarukan.

Tak hanya itu, Islandia juga menjadi satu-satunya negara di dunia yang 100 persen listriknya terbarukan.

Namun, teknik pengeboran “supercritical” yang baru dilakukan itu dinilai jauh lebih efisien dibandingkan sumur panas bumi.

“Untuk memasok listrik dan air panas ke sebuah kota seperti Reykjavik dengan penduduk 212.000 jiwa, kami membutuhkan 30 -35 sumur bersuhu tinggi, namun dengan sumur supercritical kami hanya membutuhkan tiga atau lima,” ujar seorang insinyur proyek tersebut, Albert Albertsson, kepada Phys.org.

Meski energi panas bumi secara umum dianggap sebagai sumber berkelanjutan, geotermal tak seluruhnya terbarukan.

Panas bumi menghasilkan karbon dioksida dan polusi sulfur yang terlibat dalam proses ekstraksi. Meski demikian, jumlah jauh lebih rendah dibandingkan dengan polusi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil.

Islandia juga berharap dapat memperluas kapasitas panas bumi ke pembangkit listrik di dasar laut.

Jika proyek itu berhasil, negara tersebut memiliki kemungkinan dapat menjual energi terbarukan ke Inggris dan negara Eropa lain melalui pipa bawah laut.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Petro Updated

To Top
Translate »