OIL & GAS

Buka-Bukaan Data Blok Migas, Efektifkah?

ESDM
Ilustrasi

Pembukaan data wilayah kerja atau blok migas menjadi salah satu strategi pemerintah menciptakan iklim investasi hulu migas lebih menarik.

Dengan tujuan memperbaiki tata kelola hulu minyak dan gas (migas), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan membuka data wilayah kerja (WK) atau blok migas yang diminati investor. Ini menjadi bentuk keleluasaan dari Kementerian ESDM bagi calon investor hulu migas untuk berinvestasi di Indonesia.

Menurut Wamen ESDM Arcandra Tahar (31/01), pembukaan data banyak dilakukan negara-negara lain, salah satunya Amerika Serikat. Dalam peneraparannya, sebelum pembukaan data dilakukan, Kementerian ESDM akan terlebih dulu mengumpulkan data-data blok migas di Indonesia yang belum dikerjakan kontraktor migas.

Meskipun demikian keterbukaan tidak berlaku bagi blok migas yang telah dikerjakan kontraktor migas, karena itu menjadi rahasia perusahaan tersebut.

Pembukaan data blok migas lebih jauh akan dimasukkan ke dalam rancangan revisi Peraturan Pemerintah (PP) 35 Tahun 2004 tentang kegiatan hulu migas. Saat ini rancangan perbaikan PP ini masih dalam proses menunggu pembahasan di tingkat Kementerian.

Permintaan open data terkini disampaikan oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) muncul dari PT Pertamina (Persero). Perusahaan BUMN ini di pertengahan Februari menyurati Kementerian ESDM dan kini menunggu izin untuk dapat mengakses open data Blok Rokan yang akan terminasi pada 2021 mendatang.

2D Belum 3D

Keinginan membuka data blok migas guna menarik minat investor mungkin sekali tidak berbanding lurus dengan keinginan pemerintah. Salah satu kendala yang sering kali ditemukan, terutama pada saat proses lelang, adalah kualitas data yang disiapkan pemerintah sering kali tidak sesuai harapan.

Kondisi rendahnya kualitas data dikarenakan minimnya dana yang dimiliki pemerintah dalam mempersiapkan data tersebut.

Selama ini pemerintah hanya dapat menyiapkan data migas berdasarkan survei 2D, sehingga berbeda dengan data migas milik kontraktor migas yang sering kali justru lebih baik karena survei telah menggunakan teknologi 3D.

Dikutip dari kontan.co.id, Dirjen Migas Kementerian ESDM Ego Syahrial (4/1) mengatakan, anggaran kementerian terbatas karena satu tahun itu paling tidak seismik baru di badan geologi dananya tidak sampai Rp 90 miliar. Dari total dana tersebut masih harus dibagi lagi menjadi tiga wilayah berdasarkan sebaran basin atau cekungan yang terdapat di wilayah Indonesia.

Ego menjelaskan dengan alokasi dana yang minim dipastikan akan sulit untuk memperoleh informasi akurat mengenai potensi cadangan migas di 128 cekungan yang tercatat sejauh ini. Terlebih untuk ke depan cadangan migas banyak terdapat di Indonesia bagian timur, yang biaya surveinya juga pasti akan lebih besar. Untuk satu titik survei saja di wilayah Indonesia timur dana yang dihabiskan dapat mencapai Rp 100 miliar.

Kalau begitu pertanyaannya kini, efektifkah keinginan pemerintah membuka data blok migas, kalau ternyata datanya nanti masih tidak dapat memenuhi harapan investor?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Petro Updated

To Top
Translate »