Industry

Penantian Panjang Untuk Menggunakan Mobil Listrik

mobil listrik
Illustrasi-Tesla

Gerakan dunia dalam menjaga kelestarian lingkungan mendorong meningkatnya penggunaan mobil listrik oleh masyarakat global. Kapan kita akan urun serta?

Dibandingkan tahun 2016-2017, popularitas dan angka penjualan mobil listrik atau battery electric vehicle (BEV) dan mobil hibrida atau plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) terbilang meningkat tinggi.

ev-volumes.com melaporkan sepanjang tahun 2017 penjualan mobil ramah lingkungan itu melebihi 1,2 juta unit. Bila dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya terjadi peningkatan penjualan hingga 50an persen.

Tiongkok menjadi negara penyumbang angka penjualan mobil listrik terbesar di dunia, sementara Amerika Serikat berada di urutan kedua. Disusul oleh negara-negara Eropa, Jepang, dan negara lainnya.

Kondisi lingkungan yang kian memprihatinkan dan menurunnya cadangan bahan bakar fosil menjadi beberapa faktor utama banyak negara mendorong masyarakatnya menggunakan mobil rendah emisi tersebut.

Pemerintah Tiongkok misalnya, memberikan insentif agar harga mobil listrik di negara tersebut 40 persen lebih murah dibandingkan harga mobil konvensional.

Sementara pemerintah Jepang memberikan subsidi secara progresif. Jumlah subsidi yang diberikan pemerintahan Negeri Matahari Terbit tersebut akan semakin tinggi seiring dengan semakin besarnya tenaga listrik pada mobil listrik dan mobil hibrida.

Bagaimana di Indonesia?

Prinsipnya Presiden RI Joko Widodo mendorong pengembangan mobil listrik di Indonesia. Terbuktikan oleh terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Lampiran I Perpres menyatakan untuk mencapai sasaran pemenuhan kebutuhan energi final sektor transportasi pada tahun 2025 dan 2050 diperlukan pengembangan kendaraan bertenaga listrik sebesar 2.200 unit kendaraan roda empat dan 2,1 juta kendaraan roda dua di tahun 2025.

Pepres tersebut juga menegaskan penyusunan kebijakan insentif fiskal yang mampu mendorong tercapainya sasaran.

Dalam tindak lanjutnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sedang mempertimbangkan beberapa jenis insentif. Di antaranya tax allowance maupun tax holiday untuk perluasan usaha, rintisan, dan pelatihan tenaga kerja.

Selain itu, untuk menambah jumlah kendaraan, sementara di dalam negeri terus mengembangkan fasilitas produksi lokal, Kementerian Perindustrian sedang memprakarsai pengurangan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) hingga nol persen.

Penantian Infrastruktur

Di tengah upaya pemerintah membuat beragam regulasi, tidak sedikit pihak yang mengingatkan beberapa tantangan lain yang harus dihadapi dalam rencana pengembangan mobil listrik dan mobil hibrida di Indonesia.

Infrastruktur menjadi isu pertama yang mengemuka. Pasalnya, tanpa infrastruktur akan sulit bagi pemerintah merealisasikan sasarannya. Infrastruktur di sini terkait dengan tempat pengisian bahan bakar (charging) dan kecukupan listrik di Indonesia jika semakin banyak kendaraan yang menggunakan bahan bakar listrik.

Berikutnya adalah baterai. Guna menghindari Indonesia hanya menjadi pasar bagi negara lain, pemerintah diharapkan mampu mengembangkan teknologi pembuatan baterai, termasuk memikirkan tempat mendaur ulang agar baterai mobil listrik tidak menjadi limbah.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Petro Updated

To Top
Translate »