ENERGY

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, Solusi Kebutuhan Listrik di Desa Terpencil

electricas
illustration

Bagi kebanyakan kota besar, akses terhadap listrik pastinya sudah sangat mudah dijangkau. Tetapi jadi berbeda ceritanya bagi desa-desa terpencil?

Kebutuhan masyarakat untuk menjalani aktivitas sehari-hari tak lepas dari listrik. Proyeksi rata-rata pertumbuhan kebutuhan listrik per tahun periode 2018 – 2027 sebesar 6,86 persen.

Proyeksi tersebut berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tahun 2018 – 2026 yang telah disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Bagi kebanyakan kota besar, akses terhadap listrik pastinya sudah sangat mudah dijangkau. Tetapi jadi berbeda ceritanya dengan desa-desa terpencil?

Hingga Desember 2017, PLN memang sudah membangun jaringan listrik di 75.682 desa yang berada di daerah 3T. Meskipun begitu, itu masih jauh dari kata mencukupi. Faktanya, pemenuhan kebutuhan listrik bagi desa-desa terpencil yang sulit dijangkau karena infrastruktur yang kurang memadai, memang masih terbatas jumlahnya.

Inilah yang melatarbelakangi beberapa kalangan untuk memanfaatkan energi dari alam. Di balik kesulitan tersebut, sebenarnya setiap desa memiliki potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Salah satunya adalah sumber air.

Di sini Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dapat menjadi jawaban untuk mengubah sumber daya air yang tersedia menjadi listrik.

Optimalkan SDA Setempat

Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) adalah pembangkit listrik berskala kecil yang menggunakan tenaga air sebagai tenaga penggeraknya, seperti bendungan, saluran air, sungai, atau air terjun dengan cara memanfaatkan tinggi terjunan dan jumlah debit air.

Secara teknis, mikrohidro memiliki tiga komponen utama yaitu air, turbin, dan generator. Air dialirkan melalui sebuah pipa pesat ke dalam rumah pembangkit yang dibangun di bagian tepi sungai untuk menggerakkan turbin atau kincir air mikrohidro.

Kemudian, energi mekanik yang berasal dari putaran poros turbin tersebut akan diubah menjadi energi listrik oleh sebuah generator. Dari ketinggian air 2,5 meter, dapat menghasilkan listrik sebesar 400 watt.

Karena kesederhanaan alat dan sumber daya yang digunakan, PLTMH tidak menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Masyarkat setempat pun bisa mengoperasikan PLTMH yang dibangun dengan berbekal pelatihan.

Hingga saat ini, beberapa desa terpencil sudah dapat menikmati listrik dengan teknologi PLTMH. Contohnya beberapa daerah di kawasan Sulawesi Selatan seperti kampung Na’na, Kayubiranga, Senggang, dan Katimbang Senggang, yang kawasannya belum tersentuh aspal dan harus mendaki tebing terjal untuk menuju lokasi.

PLTMH di daerah tersebut dapat mengalirkan listrik sebesar 15 ribu watt.

Petro Updated

To Top
Translate »