Supply Chain Management

SCM 4.0, Penting Segera Diaplikasikan

supply-chain-management-tulain-software-1170x658
Illustration

Revolusi industri 4.0 makin memengaruhi sistem dan pengelolaan rantai pasokan Indonesia. Pelakunya harus mampu beradaptasi bila ingin terhindari dari gerusan zaman.

Pelaku Supply Chain Management (SCM) tanah air pada dasarnya telah menyadari dampak perkembangan teknologi dan digital terhadap manajemen rantai pasokan.

Penyimpanan data dan informasi di komputasi awan (cloud computing) merupakan salah satu bentuk teknologi yang kini semakin banyak dimanfaatkan pelaku SCM. Teknologi lainnya adalah pengaplikasian digital supply chain untuk menghubungkan produsen dan konsumen.

Meskipun demikian, itu belum seberapa karena SCM 4.0 diyakini akan diwarnai oleh kehadiran superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, hingga perkembangan neurotekonologi, dan hal lain yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak.

Kesemua inilah yang sekarang belum teradopsi. Pelaku SCM pun belum banyak benar-benar bersiap untuk mengambil langkah perubahan. Tidak sedikit bahkan yang merasa transformasi ke SCM 4.0 belum perlu dilakukan.

Selaras Kebutuhan Pasar

Banyak pihak meyakini SCM 4.0 dapat membuat digitasi rantai pasokan perusahaan sesuai dengan kebutuhan pasar di masa mendatang. Ketika tuntutan konsumen semakin tinggi, pelaku SCM memerlukan sistem yang dapat mendukung produksinya lebih cepat, fleksibel, akurat, dan efisien.

Tidak melulu tentang teknologi, yang dinilai menjadi kunci SCM 4.0, anggota Pokja Bidang Pelaku dan Penyedia Jasa Logistik Kementerian Koordinator bidang Perekonomian Hoetomo Lembito, SCM 4.0 nantinya tidak terfokus pada perangkat teknologi saja. Pelaku usaha juga harus sadar kegiatan produksi, transportasi, penyimpanan barang akan tetap berlangsung secara fisik.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan PPM Manajemen, lebih jauh Lembito mengungkapkan, setidaknya terdapat lima langkah yang dapat dilakukan untuk merespon dan mengakselerasi kemajuan digitalisasi SCM. Pertama, peningkatan digital skill SDM. Kedua, kemauan untuk learning by doing dengan mencoba dan menerapkan teknologi.

Langkah ketiga adalah menggali kolaborasi baru dalam pendidikan peningkatan digital skill. Keempat, menyusun kurikulum pendidikan tentang materi human’s digital skill. Dan kelima, kolaborasi industri, akademisi, dan masyarakat untuk identifikasi ketersediaan skill.

Petro Updated

To Top
Translate »